Lagu Anak-anak Dalam Film Horor Indonesia. Antara Bisnis, Mitos dan Teror

Produksi film horor Indonesia belakangan rajin menggunakan lagu anak-anak baik sebagai judul, soundtrack maupun backsound.
Lagu Anak-anak Dalam Film Horor Indonesia. Antara Bisnis, Mitos dan Teror
Film "Oo Nina Bobo" menggunakan lagu anak-anak

Jakarta, Nusantaratv.com - Penyuka film horor Indonesia tentu belum lupa betul bagaimana totalitasnya Revalina S. Temat berlakon dalam film horor "Oo Nina Bobok"

Totalitas yang sama juga dipertontonkan Prilly Latuconsina dalam filmnya bertajuk "Danur" serta Shareefa Daanish, hantu ibu-ibu di "Asih"

Ketiga produksi film horor Indonesia ini menggunakan lagu yang biasa dilantunkan para orangtua kepada anak-anak mereka.

Lagu Nina Bobo biasa dilantunkan orangtua sebagai pengantar tidur anak-anak mereka. 

Pun lagu Boneka Abdi yang dipakai film "Danur" lebih biasa dinyanyikan anak-anak khususnya anak-anak di tanah Sunda.

Sedangkan film "Asih" yang dilantunkan hantu Shareefa Daanish yakni "Indung-idung"  bermuatan religius yang di dalam liriknya memakai kata 'anak' pula.

Lagu Anak di Film Horor untuk Bisnis

Tiga film horor Indonesia yang memakai lagu anak-anak ini jelas sukses besar dalam peredarannya. Dari sisi bisnis tentu begitu kuat sekali alasan yang ingin dicapai para pembuat film-film ini.

Dalam catatan yang ada, film horor pertama yang dibintangi oleh Prilly "Danur" telah berhasil meraih 2,7 juta penonton di Indonesia, disusul dengan sekuelnya Danur 2: Maddah yang memperoleh 2,5 juta penonton.

Jika rata-rata dikalikan harga tiket bioskop saat ini, maka film "Danur" yang diangkat dari novel laris karya Risa Saraswati ini meraih keuntungan sekurangnya Rp 81 Milyar. 

Di bawah film "Danur" perolehan jumlah penonton yang cukup banyak juga didapat film "Asih". Menurut sebuah catatan, film yang juga diperankan artis cantik Citra Kirana ini memperoleh jumlah penonton sebanyak 1,7 juta.

Sementara film "Oo Nina Bobo" dalam catatan pada Maret 2014 disebut meraup jumlah penonton sebanyak 300 ribu. 

Atas kesuksesan dalam meraup jumlah penonton ini, sang sutradara Jose Purnomo mengaku akan mempersiapkan sekuel berikutnya. Tapi kapan ya?

Mitosnya

Di balik gurih dan renyahnya bisnis film horor yang menggunakan lagu anak-anak, terdapat pula mitos yang melatari lagu-lagu di ketiga film horor tadi.

Lagu "Nina Bobo" terdapat kisah mistis yang berasal dari cerita hantu anak-anak bernama Helenina, seorang anak berdarah campuran Indonesia dan Belanda. 

Helenina kemudian meninggal karena menderita penyakit yang cukup parah. Kematian Helenina jadi awal kisah mistis lagu 'Nina Bobo' tersebut. Konon dengan menyanyikan lagu ini, arwah Helenina bisa bangkit.

Sedangkan film "Danur" yang menggunakan lagu anak "Boneka Abdi" dibawakan dengan bahasa Sunda. Judul lagu aslinya adalah "Hanschen Klein", sebuah lagu rakyat tradisional Jerman dan lagu anak-anak yang berasal dari periode Biedermeier dari abad ke-19. Bahkan, saking populernya, lagu tersebut akhirnya dibuat versi bahasa Inggris sebagai "Little Hans".

Beberapa sumber menyebutkan, lagu yang satu ini sering dinyanyikan oleh para penjajah Hindia Belanda saat berada di Indonesia.

Singkat cerita, para penduduk pribumi terutama kaum ibu sering menyanyikannya untuk menghibur anak-anak mereka dengan lagu tersebut karena mereka sering mendengar dari majikannya.

Sementara lagu "Indung indung" dalam film "Asih" merupakan lagu yang berasal dari Kalimantan Timur.

Lagu ini sempat dituduh konspirasi kafir karena di salah satu bagian liriknya menyebut "Aduh Aduh Siti Aishah Mandi Di Kali Rambutnya Basah Tidak Sembahyang Tidak Puasa Di Dalam Kubur Mendapat Siksa" yang oleh sebagian kelompok Siti Aishah yang ditulis di lagu ini adalah istri Rasulullah saw.

Namun seiring waktu perkara ini meredup dan tak terdengar lagi.

Teror Bagi Anak-anak

Seorang art and education bernama Eva Rosita pernah menulis dalam laman kompasiana mengenai teror lagu anak yang berjudul "Lagu Anak jadi Horor"

Dalam tulisannya ia mengatakan penggunaan lagu anak, di satu sisi masyarakat diperkenalkan dan diingatkan kembali tentang lagu tersebut namun di sisi lain terbentuklah image baru dan emosi negatif yang ditanamkan lewat nyanyian.

Meskipun ditujukan untuk tujuan komersil, ada alternatif lain yang bisa digunakan jika ingin lagu anak, yaitu dengan membuat kreasi yang baru sehingga karya-karya yang sudah lama dan melekat di masyarakat tidak mengalami perubahan kesan. 

Film musikalisasi Petualangan Sherina 17 tahun yang lalu bisa jadi contoh yang sangat baik untuk penggunaan musik original. Gabungan musik dan plot cerita menjadikan karya arahan Riri Reza ini sangat sukses pada saat itu.

Jadi, benarkah anak-anak malah takut menyanyikan lagu mereka setelah menonton film horor Indonesia terutama yang menggunakan lagu anak-anak? (Berbagai sumber)


 

BAGIKAN

REAKSI KAMU

like
0
love
0
funny
0
angry
0
sad
0
wow
0